Guru dapat memanfaatkan kerangka kerja pembelajaran sosial dan emosional untuk membantu siswa mengatasi isu-isu etika seputar teknologi baru.
Karena terikat oleh kepastian materi pelajaran dan serangkaian tes standar, instruktur STEM sering menolak segala sesuatu yang tidak dapat dibuktikan. Sebagai pendidik, kita tidak boleh bersembunyi di balik konten dan menghindari isu-isu teknologi-etis yang rumit yang muncul dari konten tersebut. Demikian pula, kita ingin para pemimpin dan inovator masa depan kita memilih dengan bijak untuk kita semua.
ETIKA PERANCAH SEL
Banyak orang mencampuradukkan etika dan moralitas. Namun, moralitas akan melibatkan pemaksaan sistem nilai tertentu kepada siswa—apa yang benar dan buruk. Sedangkan etika membantu siswa memperjelas dan mengekspresikan prinsip-prinsip mereka dalam situasi yang memungkinkan beragam perspektif dan tindakan.

Pembelajaran sosial dan emosional (SEL) memungkinkan siswa untuk melatih pemikiran dan pengambilan keputusan etis dalam lingkungan yang melengkapi pengetahuan STEM. Teori SEL bervariasi, tetapi semuanya mendorong otonomi, kemandirian, regulasi kognitif dan emosional, keterampilan dan hubungan sosial, serta semangat kewarganegaraan. Etika dapat dibahas dengan mudah bersamaan dengan pengetahuan konten yang mendalam.
MENINGKATKAN WEWENANG SISWA
SEL mengajarkan anak-anak bahwa mereka adalah individu yang unik dan berdaulat yang dapat membuat pilihan yang memengaruhi hidup mereka. Dengan demikian, pembelajaran berbasis proyek (PBL) secara langsung menargetkan kemampuan SEL ini dengan memberikan siswa suara dan pilihan dalam tim kolaboratif.
Alih-alih bertanya “Bagaimana kita dapat membangun aplikasi AI?”, tanyakan “Bagaimana kita dapat membangun aplikasi AI yang bermanfaat bagi manusia?” Hal ini mendorong siswa untuk meneliti aspek etika dari pekerjaan mereka dan untuk mengungkapkan pendapat mereka.
REGULASI EMOSIONAL DAN KOGNITIF
Keterampilan ini mempersiapkan siswa untuk menjadi siswa, rekan kerja, dan teman yang lebih baik. Ketika ditanya tentang keyakinan mereka, siswa dapat belajar merumuskan argumen mereka secara koheren dan merespons dengan tepat dalam dialog yang memungkinkan berbagai perspektif.
Namun, perdebatan mengenai etika teknologi dapat diadakan di kelas mana pun, baik yang menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah (PBL) maupun tidak. Topik-topik ini relevan dan penuh dengan dilema etika yang dapat diselidiki siswa sambil memantau dan mengendalikan pemikiran logis dan respons emosional mereka, serta mengklarifikasi nilai-nilai pribadi mereka.

Temperamen dan gaya mengajar guru harus dipertimbangkan ketika membahas peristiwa terkini di kelas. Jadi, dari film hingga podcast hingga artikel berita, Anda dapat menemukan topik perdebatan yang menarik secara daring. Diskusi dapat berlangsung secara langsung atau asinkron melalui teknologi digital.
Siswa dapat memberikan komentar secara pribadi di jurnal atau secara terbuka di kelas. Diskusi dapat bersifat informal atau dimoderasi. Terlepas dari perspektif mereka, anak-anak mendapat manfaat dari memikirkan nilai-nilai mereka dan mengungkapkannya dengan hormat dalam komunitas kelas yang menjadi wadah pertukaran ide.
MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL
Untuk berkontribusi pada komunitas yang beragam, siswa harus membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain. Struktur tim kolaboratif PBL sangat ideal bagi siswa untuk melatih keterampilan interpersonal mereka. Berpartisipasi dalam diskusi kelompok membantu anak-anak belajar berkomunikasi, mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, dan mengungkapkan rasa terima kasih.

Melalui kelas berbasis masalah (PBL) atau diskusi tentang peristiwa terkini yang berfokus pada etika teknologi, siswa dapat mengembangkan pengendalian diri, manajemen emosi, serta keterampilan sosial dan interpersonal. Siswa mengembangkan keterampilan pembelajaran sosial dan emosional (SEL) dan memperjelas pandangan etika mereka dalam suasana pluralistik.
MENINGKATKAN SEMANGAT MASYARAKAT
Kita membutuhkan komunitas. Perkembangan sosial dan emosional para pemimpin masa depan membutuhkan pengajaran kepada anak-anak untuk peduli dan terlibat dalam komunitas mereka. Mereka memupuk rasa kebersamaan. Dengan cara yang sama, di situlah modul PBL dan diskusi tentang peristiwa terkini dapat membantu.
Membantu mengatasi kesulitan dan menyarankan solusi secara langsung berdampak pada tetangga mereka, mulai dari keluarga hingga sopir bus sekolah atau pelayan restoran.
Umat manusia dihadapkan pada sebuah pilihan. Dari pandemi hingga AI, tantangan-tantangan kita mengancam kelangsungan hidup spesies kita. Solusinya akan bersifat teknologi, tetapi juga etis, dan akan membutuhkan kerja sama global. Untuk menjamin masa depan yang baik bagi generasi mendatang, kita harus mendidik mereka dalam bidang sains, keterampilan interpersonal, dan etika. Guru STEM dapat membantu siswa mengembangkan sifat-sifat ini.